Pada Rabu, 26
Juni 2024 sebuah akun X bernama @redennisya mengunggah pengalaman tidak
mengenakan saat mengunjungi sebuah restoran. Akun tersebut memposting sebuah
struk pembayaran yang tertera tulisan ‘tobrut’ sebagai penanda. Pasalnya,
kejadian tidak mengenakan tersebut dialami oleh temannya. Tentunya, identitas
asli korban tidak disebarluaskan untuk menjaga privasi korban.
Istilah tobrut
sendiri merupakan singkatan dari kalimat yang merujuk pada bagian privasi
perempuan. Istilah yang tengah ramai digunakan di jejaring media sosial ini mengarah
pada hal negatif, tidak senonoh dan cenderung melecehakan perempuan. Selain tobrut,
terdapat pula istilah-istilah serupa seperti ‘tocil’ dan ‘ceker babat’. Istilah
tocil memiliki arti yang mirip dengan tobrut, yakni sama-sama merujuk pada
bagian tubuh perempuan dan tentunya, sama-sama merupakan pelecehan verbal. Sedangkan
istilah ceker babat, dilansir dari berbagai media, memiliki dua kepanjangan
yang berbeda. Salah-satunya adalah ‘cewek kerudung bikin taubat’, namun salah-satunya
lagi bermakna vulgar yang serupa dengan tobrut bahkan bisa jadi lebih parah
karena menggunakan kata yang menyangkut atribut keagamaan.
Seksisme Dibalik Istilah 'Tobrut'
Penggunaan istilah
‘tobrut’ merupakan bentuk labelling
yang sangat merendahkan dan seksis terhadap perempuan. Istilah ini
secara langsung mengarah pada bagian tubuh tertentu dari perempuan dan
mengobjektifikasi perempuan secara seksual. Istilah-istilah ini mencerminkan
pandangan yang mempersempit nilai perempuan yakni hanya pada dimensi fisik,
tanpa mempertimbangkan kualitas lainnya seperti kepintaran, bakat, atau karakter.
Penggunaan
kata-kata ini memperkuat stereotip gender yang merugikan dan menciptakan
lingkungan yang tidak menghargai perempuan sebagai individu yang utuh.
Perempuan diajarkan oleh lingkungan sosial untuk melihat diri mereka melalui
lensa objektifikasi seksual, yang menghambat perkembangan identitas yang sehat
dan seimbang. Dengan mempromosikan atau menggunakan istilah-istilah ini, orang
tidak hanya menyebarkan pandangan sempit tentang nilai dan peran perempuan,
tetapi juga memperkuat stereotip gender yang merugikan perempuan.
Dampak Negatif dari Labelling
Seksisme melalui Labelling tidak hanya berdampak pada persepsi individu terhadap dirinya sendiri, tetapi juga mempengaruhi cara masyarakat melihat dan memperlakukan perempuan secara keseluruhan. Labelling membuat perempuan terjebak dalam citra yang sempit dan sering kali dipandang hanya dari perspektif seksual, bukan sebagai individu yang memiliki keberagaman dan kompleksitas dalam hidup.
Dampak dari labelling
ini tidak bisa dianggap remeh. Secara sosial, labelling akan menciptakan
lingkungan yang tidak menghargai perempuan sebagai individu yang utuh dan
cenderung membatasi kesempatan perempuan untuk dihargai berdasarkan prestasi
dan karakter. Perempuan sering kali dipaksa untuk menghadapi stereotip negatif
yang merugikan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kehidupan profesional
hingga kehidupan pribadi.
Dari segi
psikologis, sexual objectification melalui
labelling ini dapat menyebabkan
perempuan cenderung melakukan self objectification,
yakni kecenderungan untuk mementingkan penampilan fisik dari pada mementingkan
fungsi dan perasaan tubuh. Penggunaan
istilah-istilah merendahkan ini juga dapat menyebabkan trauma dan penurunan kepercayaan
diri yang signifikan. Labelling membuat
perempuan mungkin menginternalisasi pandangan negatif yang melekat pada dirinya,
menyebabkan peningkatan kecemasan, depresi, dan ketidakpuasan dengan tubuh sendiri.
Hal ini menghambat perkembangan identitas yang sehat dan merugikan
kesejahteraan mental perempuan secara keseluruhan.
Menantang Penggunaan Labeling yang
Merendahkan
Penting untuk
menyadari bahwa penggunaan istilah-istilah yang merendahkan perempuan bukan
hanya masalah kosmetik dalam penggunaan bahasa, tetapi mencerminkan
ketidakadilan yang lebih dalam. Kita perlu bersama-sama menantang stereotip dan
penilaian berdasarkan penampilan fisik yang merugikan ini, serta mempromosikan
penggunaan bahasa yang lebih menghargai dan menghormati perempuan sebagai
individu yang memiliki nilai lebih dari sekadar penampilan fisik.
Referensi
Aubrey, J. S. (2006). Effect of sexually objectifying media on
self-objectification and body surveillance in undergraduates: Results of a 2 year
panel study. Journal of Communication, 56.
Fitiriani, L. T. (2024). Arti ceker babat bahasa gaul dan tobrut artinya
dalam bahasa gaul beda jauh. Diakses dari https://pekanbaru.tribunnews.com/2024/04/13/arti-ceker-babat-bahasa-gaul-dan-tobrut-artinya-dalam-bahasa-gaul-beda-jauh
diakses pada 24 Juli 2024.
Fredrickson, B. L., & Roberts, T. A. (1997). Objectification theory:
Toward understanding women's lived experiences and mental health risks. Psychology
of Women Quarterly, 21(2), 173-206.
Ridho, M. (2024). Arti tobrut, ceker babat viral di TikTok itu apa? Cek
penjelasan maksudnya di sini. Diakses dari https://mediablitar.pikiran-rakyat.com/hiburan/pr-328034385/arti-tobrut-ceker-babat-viral-di-tiktok-itu-apa-cek-penjelasan-maksudnya-disini?page=all
diakses pada 14 Juli 2024.

No comments
Post a Comment